Assalamualaykum
Dulu, saat ditawarkan untuk jadi murid di sekolah wihdah saya hanya mengangguk setuju tanpa fikir panjang *tidak mau berfikir akan seperti apa natinya* saya nyatakan kesediaan diri untuk sekolah disana selama satu tahun. Iya sekolahnya cepat, tapi pelajarannya banyak.
Sekolah Wihdah sama seperti sekolah-sekolah lain, ada guru, ada murid, ada peer, ada kepala sekolah, ada jadwal pelajaran, ada penilaian akademis, dan di akhir ada bagi rapot.
Sekolah Wihdah di kepala sekolahi oleh Zakiah Rahmah *calon pegantin 20 maret nanti*
Staf pengajar tertulis ada 35 orang, tapi yang tidak tertulis banyak, tidak terhitung
Muridnya adalah saya, dan mungkin beberapa orang yang menganggap wihdah itu sekolah
Sekolah wihdah juga memberlakukan sistim peer, tapi bedanya peer tidak ditulis di buku tulis, tapi berupa program kerja yang harus diselesaikan sesuai dengan deadline. Peer juga kadag berupa hal-hal yang kasat mata, seperti peer menumbuhkan semangat para staf pengajar yang kadang loyo ditengah-tengah semester.
Sistim pelajaran di sekolah wihdah tidak seperti sekolah pada umumnya, mata pelajarannya tidak menentu.
Kadang kita diajarkan tentang Sense of belonging ketika dirasa grup2 whatsapp sedang sepi, celetukan-celetukan ringan tak berbalas, staf sudah mulai acuh dengan eksistensi sekolah.
Lain waktu kita diajarkan untuk Percaya diri, ditunjuk ditempat untuk memberikan sambutan tanpa persiapan, atau disaat dimintai pendapat lalu keringat dingin karena gagap berkata-kata.
Atau ketika ada musyawarah, kita diajari untuk menghargai usul dan pendapat orang lain kemudian legowo dengan hasil kesepakatan.
Dilain hal kita diajari untuk bisa memanage waktu, rapat sekolah jam sekian, kemudian dilanjut undangan untuk menghadiri acara ditempat lain, sementara tugas utama kuliah di skip untuk sementara.
Pernah kita diajari untuk tidak lalai walaupun hanya kesalahan sepele tapi efeknya menambahkan jadwal rapat dua kali rapat dengan hasil sama, walaupun tidak melegakan salah satu pihak.
Sekolah wihdah mengajari kita bagaimana bisa jadi wanita yang gesit, luwes, tapi tetap anggung sebagai wanita.
Sekolah Wihdah mengajarkan kita untuk tetap mengedepankan maslahat bersama dibanding kepuasan pribadi.
Sekolah Wihdah mendikte kita untuk bisa teratur dalam rutinitas harian sekolah.
Sekolah Wihdah mengajari kita bagaimanapun sulitnya kita mengajak orang lain untuk ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan tapi kita tetap harus berusaha walaupun endingnya kita tetap kalah.
Sekolah Wihdah mengajarkan kita bagaimana seharusnya wanita bersikap sebagai calon Ibu dengan segala pernak-perniknya.
Sekolah Wihdah mengajarkan kita untuk tetap mengontrol emosi saat dua mulut bersuara lantang menyuarakan haknya.
Kepala sekolah turut andil banyak demi eksistensi sekolah ini, didampingi wakil kepsek mereka senantiasa menumbuhkan benih-benih asa, seakan berkata 'sabar! Tinggal beberapa saat lagi kita bagi rapot'
Kegiatan demi kegiatan berhasil dilaksanakan, peluh lelah staf pegajar demi persiapan acara terpancar jelas, emosi yang mudah tersulut ketika lelah bisa diredam hanya dengan sapaan 'apakabar? Semoga Allah ganti lelah kita dengan surga'
'Jangan lupa istirahat'
'Jangan lupa makan'
Tapi sekolah ini tidak melulu stafnya dituntut untuk bekerja, ada saatnya mengadakan jalan-jalan untuk merefresh staf pengajar, terpilihlah Alexandria hanya untuk sekedar menjaga kewarasan dari padatnya agenda.
Kita ingat dahulu, ketika pembagian rapot tengah semester nilai kita baik2 saja, hanya ikatan hati para staf belum baik2 saja, masih ada sekat.
Seiring berjalannya waktu, Azhari Backpacker, Sekolah Calon Ibu, tahniah, Wihdah euphoria serta acara kedinasan lainnya yang ternyata menguras tenaga bisa menumbuhkan rasa saling memiliki walau masih ada segelintir staf yang tidak mau 'memiliki'
Kita ingat menjelang pembagian rapot tengah semester, tiga kegiatan harus dilaksanakan hanya dalam waktu satu bulan, dan ternyata...KITA BISA, padahal saat itu kepala sekolah sedang dinas di luar negeri *yang ternyata cikal bakal cerita hidupnya kelak*
Kita pernah merasa tidak dihargai oleh beberapa orang, tapi tidak lantas membuat kita mundur alias resign dari sekolah ini, bahkan ini jadi evaluasi bersama
Hingga sampailah diujung semester, H-sebulan pembagian rapot (LPJ)
Tersisa satu agenda akhir sebagai ucapan perpisahan menandakan akan ada kepala sekolah serta staf baru yang akan menjabat satu tahun kedepan.
Terlaksanalah Wihdah Euphoria, sebagai dedikasi kedua terakhir sebelum megerahkan sekuat tenaga untuk bisa lulus ujian akhir.
H-1 pembagian rapot, sebagian staf terjebak di kantor demi persiapan UAS, kenangan paling akhir, mabit di kantor demi beberapa bundel laporan. Di lain tempat masih dengan waktu yang sama dua orang staf mengejar deadline, mereka lebih parah belum ada bundel yang tercetak sama sekali, masih dalam bentuk soft file.
Sampai tiba waktu fajar, pejuang2 UAS bangun dengan mata masih setengah melek, lanjut mencetak bundel kemudian baru selesai semuanya pukul 10 pagi.
Pukul 11 siang acara dimulai berlangsung dengan sedikit degdegan, dicampur rasa khawatir, ditambahkan bumbu cantik lewat peserta ujian berjilbab emas, sampai di akhir terucaplah kata 'Laporan diterima...' dari para pegawas dan serentak semua staf berucap 'Alhamdulillah'
Alhamdulillah, kita telah lulus dari sekolah wihdah dengan hasil memuaskan. Pelajaran berharga dengan setumpuk pengalaman semoga bisa menjadi bekal untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya.
Alhamdulillah amanah selesai.
*lambaikan tangan pada revisi..hehe*
NB: curahan hati mantan bendahara :)
0 comments