Assalamualaykum
Selamat Hari Pendidikan Nasional untuk seluruh pelajar dan pendidik Indonesia dimanapun kalian berada, bahwa tonggak estafet ada ditangan kita maka mari berjuang demi Indonesia lebih baik. Belajar, belajar dan belajar wahai kalian pelajar!
Nah edisi kedua ini kita bakal nostalgia seputar para pendidik di Alkahfi, dari guru yang terkenal dengan gaya ngajarnya yang pake senam jantung sampai wali asrama yang tak kenal lelah bangunin 50 santri kurang lebih setiap harinya😄
Sebelumnya saya ingin menyampaikan terimakasih kepada para pendidik di Alkahfi atas jasa-jasa tiada terkira, atas nasihat yang selalu jadi penyemangat, atas omelan yang beralasan, dan kesabaran tiada berbatas.
Lets begin..
G: Guru
S: Santri
G: 'Assalamualaykum, selama lima menit kedepan kita akan melaksanakan senam jantung, siapkan kertas dan jangan lupa tulis nama di pojok kiri atas kertas'
*murid krasak krusuk nyiapin kertas*
Guru pun mulai membacakan soal dan harus langsung dijawab dalam waktu 30 detik dan setiap 30 detik habis maka suara penghapus papan tulis yang diayun beradu dengan meja guru...Taakk *dagdigdug*, guru pun lanjut membaca soal dan begitu seterusnya hingga lima menit habis dan soal langsung diperiksa.
Alhamdulillah, fiuhhh senam jantung di pagi hari selesai.
Ada yang ingat siapa yang cara ngajarnya seperti ini? Yapp.. Ibu Neni Pritiani, ngajar matematika dengan metode yang tidak biasa😂 senam jantung, spot jantung atau apapun namanya, cara paling berkesan.
Ada yang ingat pelajaran shorof? Fa'ala yaf'ulu fa'lan wa maf'alan fahuwa fa'ilu...
Saat itu di benak saya, kenapa menghafal pelajaran ini lebih sulit dibanding menghafal rumus fisika? tapi lagi-lagi pelajaran ini dikemas berbeda oleh pengajarnya.
S: Pak susah banget ngafalnya *biasa kan ya kita sering banget ngeluh*
G: Oke, Bapak baca sampai sepuluh kali setelah itu kalian harus setoran
*dan guru pun membaca tashrifan lughowi tersebut selama sepuluh kali, sambil berharap setelah ini 30 orang muridnya akan antri untuk setoran tashrif*
Setelah sepuluh kali dibacakan..
G: ayo siapa yang mau setoran?
S: ....
G: gak ada yang hafal?
S: susah pak *jawab serentak*
G: oke saya ulang lagi, tiga kali ya.
S: iya pak
Setelah tiga kali..
G: sudah hafal?
S: belum pak
G: &#%@$@&#*
Ayo tebak-tebak siapa guru shorof legendaris ini? Yap Pak Asep😄
Guru yang paling sabar selama nungguin santrinya menghafal shorof..hehe *salam takzim untuk Pak Asep dari murid yang susah sekali menghafal shorof pada zamannya* hehehe.
Kita beralih ke pelajaran Ips ya😎 kita akan kembali bernostalgia dengan Ibu Rina dan Ibu Rini yang setia mengajar Geografi dengan karton yang sudah ditulis dengan rangkuman sehingga memudahkan pemahaman para santri, atau biasa disebut dengan mindmapping atau bahkan sesekali materinya berupa film yang harus kita tonton dan kemudian diminta membuat kliping atau sekedar membuat artikel terkait.
Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Yap sejarah, pelajaran yang diajar oleh Bu Dwi dengan metode yang macam-macam pula, terkadang ada semacam pre-test sebelum mulai belajar dan bagi siapa yang bisa menjawab maka dapat beberapa butir kacang telur😋 atau saat berlomba-lomba meremake lagu yang liriknya diganti dengan peristiwa bersejarah seperti lagu balonku ada lima yang diganti liriknya untuk menghafal Konferensi Meja Bundar *udah lupa juga sebenernya liriknya hehe*
Atau buat mindmapping tentang peristiwa masuknya islam ke Indonesia. Wahh, betapa saya merindukan momen-momen dimana saya dituntut kreatif😘
Next lesson,
🎶🎶"Salam hangat kami dari ekonomi
Pelajaran asyik yang paling menarik
Kami tidak malas mengerjakan tugas.."🎶🎶
Ayo ada yang inget lagu ini? Yap lagu yang selalu dinyanyikan setiap mulai pelajaran ekonomi, walaupun pelajarannya siang hari tapi ketika menyanyikan lagu ini sedikit membuat saya mengangkat kepala yang hampir menempel di atas meja, terlebih lagi jika kelasnya saat itu di saung bawah😂
Oh iya ekonomi ini diajar oleh Bu Eka dan Bu Novi yang selalu ceria seperti lagunya..hehe
Guru yang ngajar Ips, Matematika, Shorof udah, apalagi yang belum?
Ipa kayanya ya, ada Bu Tri yang ngajar kimia dan sekarang galeri album facebooknya sukses bikin ngiler karena isinya foto-foto kue ulang tahun yang cute-cute😍😍😍 *salah fokus yaaa* untuk kimia ini saya selalu inget waktu nilai catatan kimia saya dapet C ketika kelas 7 atau 8 gitu, karena memang sedikit dan jarang mencatat materi yang diajarkan, waktu itu pembahasan tentang senyawa untuk membuat sabun atau bagaimana gitu *failed banget dan emang lupa* hehehe.
Inget Pak Ilyas? Yang kalau datang ke kelas hanya membawa spidol marker dan koran? Pasti diingat lah ya😊
Guru fisika yang sama sekali tidak pelit nilai. Coba bayangkan, di kelas saya rata-rata ketika ulangan dapat nilai seratus dan hanya segelintir orang yang dapat nilai delapan atau tujuh *include saya yang emang payah di pelajaran Ipa* *poor me*
Ada lagi Pak Nunu, selera humor nya tinggi, jadi tidak jarang di tengah pelajaran fisika muncul humor-humor ringan. Terakhir adalah Pak Endang, guru fisika kelas 3 smp yang sedikit berbeda dari pak Ilyas dan pak Nunu, pembawaan pak Endang ini sedikit serius dan bagi saya ini kombinasi yang pas sekali untuk sulit faham fisika..hahaha
*guru yang lucu aja tetap susah untuk faham, apalagi yang bawaannya serius khan..khan* *ngeles aja ni si Intan😝* *aslinya emang lemah di pelajaran Fisika..HAHAHA*
Biologi. Entah kenapa kalau ingat biologi saya langsung teringat saat-saat dimana saya harus membelah katak di lab yang saat itu letaknya di dekat green house, ada murid yang sampai menangis karena melihat darah lalu tergugu di pojokan tembok dekat manekin tubuh manusia atau saat membuat tumbuhan kering, atau juga saat membahas reproduksi perempuan. Yap Bu Jane, Bu Tera, dan Bu Ariani adalah tiga guru yang setia mengajarkan biologi kepada kami.
Bu Jane yang di awal perkenalannya pernah bilang "saya senang membaca apa saja, bahkan tulisan di jalan-jalan pun akan saya baca, atau tulisan dari sekedar robekan kertas.."
Si Intan ini emang lemah banget di pelajaran Ipa maupun Ips, lah terus apa yang rada menonjolnya? Agama..hehe
G: hari ini kita praktik menyiapkan jenazah ya
S: siapa yang mau jadi mayatnya?
*Tazki pun rela dan akhirnya sudah terbungkus rapih oleh kain kafan..hehe*
Kira-kira kita lagi bahas apa sekarang? Fiqh. Iya percakapan diatas ketika kelas tiga smp dan sedang masuk dalam pembahasan persiapan jenazah. Gurunya adalah Pak Irfan.
Atau ingat dengan Bu Anna Maftuhah? Guru karismatik lulusan Gontor ini adalah guru pertama yang membuat saya jatuh cinta pada ilmu syar'i. Cara ngajarnya pun lumayan unik kalau tidak mau dibilang kaku. Beliau datang ke kelas, ucap salam kemudian tanya kabar dan selanjutnya langsung membagi papan tulis menjadi tiga bagian dan mulai menuliskan dengan detil arti setiap kata yang ada pada buku fiqh -pada saat itu bukunya berbahasa arab dan covernya warna merah kalau tidak salah, dengan font yang kitabable banget pokoknya- hingga jam pelajaran usai.
Tapi di lain waktu beliau menerangkan juga apa isi materi yang beliau sampaikan, jadi sistem mengajarnya tulis dulu semua mufrodat plus artinya baru setelah itu dijelaskan, dan cara beliau menjelaskan membuat saya jatuh cinta pada ilmu-ilmu syar'i.
Selanjutnya ada Hadis oleh Pak Dadang *yang ternyata lulusan Husnul Khotimah*, Aqidah oleh Pak *Gusti saya lupa namanya* beliau orang Lampung, dan hanya mengajar ketika saya kelas 7 kemudian beliau pindah dari Alkahfi, materi dasar yang diajarkan di Alkahfi pun tentang syahadatain, ma'rifatullah, muroqobatullah tapi dengan kondisi santri yang tertidur padahal suasana kelas masih pagi, tapi lagi-lagi kelasnya di saung bawah. Maka saung dan pagi hari adalah kombinasi yang pas untuk meletakkan kepala di meja disaat guru mengajar *astaghfirullah, maafkan kami bapak guru ibu guru*
Ketika kelas 3 pun ada Pak Yayan yang mengajar aqidah, Bu Zuriah yang mengajar Tafsir Bu Baiduri mengajar Fiqh, dan Pak Arief mengajar Nahwu.
Selanjutnya bahasa ya, cungg tinggi-tinggi yang suka pelajaran bahasa🙋
Bahasa Arab, ada Bu Yeyen, Pak Iqbal dan Pak Misbah yang mengajarkan kami selama tiga tahun.
Bu Yeyen ini sekaligus wali kelas saya waktu kelas 7, ya selayaknya wali kelas murid baru maka bu Yeyen cenderung bersikap seperti seorang ibu, menempatkan diri sebagai Ibu saat waktunya kumpul dengan wali kelas😍jadi tempat curhat lewat kertas yang akan selalu dikumpulkan setiap pertemuan.
Di Alkahfi murid boleh makan permen di tengah pelajaran, alasannya supaya tidak mengantuk saat pelajaran. Pernah suatu ketika ada santri yang makan permen saat pelajaran Pak Iqbal, dan tiba tiba pak Iqbal bilang kalau beliau tidak suka makan permen, alasannya karena makan permen itu sama dengan makan ludah sendiri..hehe masuk akal pak😁
Untuk Pak Misbah ini saya ingat kalau saya pernah hampir menangis karena dapat bentakan beliau saat kelas 9, beliau minta saya menjawab apa tapi saya malah jawabnya apa..huhu *kenangan tersendiri pokoknya mah..Hahaha, kalau diigat-ingat cupu juga sebenarnya*
Kalau ingat Bahasa Inggris, saya langsung ingat dengan Bu Heni, yang kalau muridnya bisa ngumpulin kertas sticky note -hasil nilai ulangannya sepuluh, atau pun bisa jawab soal dari bu Heni- maka dia dapat pencilthick, itulho pulpen warna warni yang cute banget, saya kepengen banget pulpen itu tapi gapernah dapet..HAHAHA
Atau bu Heni yang pernah ambil cuti demi ngajarin adiknya buat uas kemudian sekembalinya dari cuti bu Heni cerita kalo adiknya gamau diajarin bu Heni..huhuhu
Selanjutnya ada Bu Yuna, yang pernah bikin kunci jawaban dengan jawaban abcd per empat nomor pas lagi UAS, faham ga? Jadi jawaban nomor satu A, nomor dua B, nomor tiga C, nomor empat D, begitu seterusnya sampai nomor dua puluh sekian yang ternyata nggak urut jawaban abcd nya..hehe, atau saat listening lagu pricetag yang ternyata kena tegur hanya karena lagunya ga islami😏
Atau Bu Dita guru bahasa Inggris kelas 9 sekaligus kepala sekolah yang pernah kita tanyain tentang sepatu apa yang cocok untuk dipakai pas wisuda nanti, apakah flatshoes atau high heels *duhduh akhwat ya, pelajarannya apa pertanyaannya apa👠*
Pelajaran Bahasa yang terakhir adalah Bahasa Indonesia. Ada Bu Wati yang pernah memberi tugas untuk membuat cerpen tapi sekaligus jago matematika dan Bu Rosi yang menurut saya agak sedikit killer hehehe. Soalnya nilai bahasa indonesia saya pernah di bawah KKM hanya karena sulit faham pelajaran dan takut dengan gurunya.
Ada lagi nih pelajaran paling-paling *paling sering kena remed pas kelas 7* TIK atau komputer, diajar oleh Bu Jane yang saat itu ngajar Biologi juga, terus kelas 8 nya berkutat dengan ms. excel dibawah bimbingan Pak Cece dan kelas 9 mulai belajar tentang internet dibawah didikan Almarhum Pak Kiki.
And last, guru paling legendaris sejagad Pak Chairul, guru yang ngajar PPKN selama 3 tahun berturut-turut, guru yang pernah ngajak nonton film The Last Samurai, guru yang sekaligus pernah menjabat sebagai Ketua pembinaan Putri, guru yang kadang pas lagi jam pelajarannya suka cerita tentang kebandelan-kebandelan santri putra, entah yang madhol *bolos sekolah* atau yang ngumpetin vcd porno, atau bahkan yang diem-diem kabur lewat kebon belakang, dan guru yang suka sidak kebersihan kamar santri putri ketika para santri sedang sholat berjamaah di Qo'ah.
Fiyuuhhh..panjang sekali ternyata nostalgianya ya😓 dan selesai Alhamdulillah.
Tadinya di part ini mau dibuat sekalian cerita tentang wali asramanya tapi ternyata kepanjangan, jadi kita buat di part selanjutnya ya😄 dan tanpa mengurangi rasa hormat kepada guru-guru yang tidak disebut namanya, tanpa disebut pun semesta tahu bahwa saya sungguh berterimakasih atas semua ajaran yang diberikan.
Selamat bernostalgia.
3 Mei 2016, 22:43 Clt