Assalamualaykum
Kemarin sore di wall facebook saya muncul foto empat guru legendaris pas zaman smp, langsung saat itu juga memori 10 tahun silam berloncatan minta dikenang sekali lagi.
Saya bagi dalam 3 part insya Allah, mengingat hidup di Alkahfi selama tiga tahun bukan waktu yang sedikit dan banyak memori indah berkelebat di kepala.
***
Ayah: jadi kan daftar di Alkahfi?
Me: jadi.
***
Juli, 2005
Hari-hari ku sebagai santri dimulai, mandi yang harus antri, pakai jilbab peniti yang rasanya ko sulit banget, ke masjid yang harus lengkap pakaiannya, mulai dari celana panjang kemudian dirangkap lagi dengan rok, baju atasa panjang, dan terakhir jilbab baru setelah itu mukena warna putih. Kaoskaki putih dan sepatu hitam menjadi alas kaki wajib kalau sekolah, jilbab yang harus dua jengkal menutupi dada serta satu jengkal dari sisi samping, makanan ber-msg dilarang keras, kewajiban memakai bahasa arab atau inggris dalam percakapan sehari-hari sangat-sangat dianjurkan, ke koperasi yang hanya berjarak beberapa meter pun wajib pakai kaoskaki, makan 3x sehari yang juga harus antri.
Terus betah? Haha awal-awalnya ga betah, nelpon di wartel sampe beribu-ribu karena nelponnya interlokal, nangis setiap malam, apalagi dengan kemampuan sosialiasasi saya yang masih kekanak-kanakan membuat saya sulit membuat pertemanan, pasti ada aja pertengkaran2 kecil *duh ababil banget ini abegeh*
Sampai pada akhirnya saya mulai menerima keadaan saya yang hidup di pesantren, saya mulai sadar kalau kamar yang saya huni bukan milik pribadi, ada tujuh kepala saat bersepakat membuat peraturan, ada tujuh kepala yang punya pendapat masing-masing, ada tujuh kepala dengan sifat berbeda, dan ada tujuh kepala yang siap membangun pertemanan selama tiga tahun kedepan😊
Kehidupan di pesantren sangat jauh berbeda dengan hidup di rumah sendiri, ada jadwal rutin yang harus diikuti setiap harinya. Ada ekskul wajib yang kalo ga hadir bakal dicari-cari sama wali asrama.
Ada waktu tahfiz subuh hari yang saya jamin kalo lagi liburan dari pondok bakal dimanfaatkan untuk lanjut tidur di kasur kesayangan.
Makan tiga kali sehari dengan variasi lauk luar biasa. Nasi tomat untuk lauk pagi hari, pecel lele lauk siang dan sop sosis untuk lauk malam hari. Dengan tambahan buah di setiap makan siang, bahkan sesekali ada snack tambahan di sore hari.
Suara bel yang akan berbunyi setiap 7 kali dalam sehari (5 kali bel pengingat sholat, satu kali bel jadwal berangkat sekolah, dan satu kali bel jadwal belajar malam) seakan seperti lagu penyemangat, suara speaker dari pusat informasi menjadi suara yang sangat ditunggu, biasanya kalau ada telpon dari orang tua masuknya ke pusat informasi, baru setelah itu kita bisa nerima telpon tersebut.
***
Bangunan di Alkahfi yang rata-rata ada tangganya membuat salah satu teman saya memberikan julukan untuk Alkahfi sebagai Negeri Seribu Tangga, mau masuk asrama harus naik tangga, mau ke kelas harus nanjak, mau ke kantor guru harus naik tangga, mau ke masjid harus turun tangga, saking banyaknya tangga mungkin membuat kami menjadi akhwat tangguh..ahahaha.. lebih parah lagi jarak dari asrama akhwat ke asrama ikhwan pun bagaikan langit dan bumi, asrama ikhwan di atas dan asrama akhwat di bawah.
Saung-saung yang dijadikan kelas sempat menjadi ciri khas alkahfi waktu dulu, sistim moving kelas setiap minggu nya membuat kami mencicipi semua kelas, baik kelas dari tembok atau kelas beratapkan anyaman dari bambu dengan semriwing angin sejuk setiap harinya.
Qo'ah tempat sholat pun dibuat seperti saung tapi dengan ukuran lebih besar, cukup untuk menampung sekitar 500 santri akhwat kurang lebih 😆
Tapi kemudian, saat masjid akhwat sudah berdiri, qo'ah ini berubah fungsi jadi kantor Ospeta kalau saya tidak salah.
Ada ruang kesehatan yang berdampingan langsung dengan pusat informasi, terletak persis di depan Qo'ah. Bu Nita, suster cantik nan baik hati seperti sudah kenal akrab dengan saya yang hampir 'liburan' setiap bulan karena penyakit maag yang saya alami.
Atau dapur dan tempat laundry yang tempatnya lumayan jauh, sekitar 200 meter dari pusat asrama (Aisyah dan Khodijah), disana tempat bibi-bibi perkasa yang sigap memasakkan lauk dan mencucikan baju para santri😍
Spot asik lainnya adalah deretan saung-saung kecil di pinggir empang *ini beneran empang ya bukan kolam* tempat liqo anak santri, tempat orang tua kalau menjenguk anaknya, bahkan tempat untuk sekedar makan mi ayam yang hanya dijual hari kamis *apa sabtu ya? Lupa* dan tetep ya mie ayam ini dijamin kualitasnya, saosnya saos abc, mienya buatan sendiri, dan pastinya non msg, karena Alkahfi menjunjung sekali makanam sehat.
Koperasi pun tak luput dari perhatian, 🚫 ciki, 🚫 jajanan ga sehat, 🚫 minuman soda yang rata-rata produknya muqothoah. Seinget saya juga mie yang dibolehkan itu hanya mie Nida yang rasanya masih indomi kemana-mana😊Hehehe
Tapi kelak saya merasa beruntung karena larangan terhadap makanan-makanan ber msg tersebut, bahkan kaka saya semenjak masuk Alkahfi frekuensi makan indomi nya jadi jarang sekali.
Karena memang kebiasaan itu bukan sesuatu yang instan tapi butuh pembiasaan berkali-kali, dan hidup di Alkahfi menjadi salah satu faktor pendukung dalam membentuk karakter diri saya.
Nb: foto ini diambil dari fb Bu Husnul, salah satu pengajar di Alkahfi.
dari kiri ke kanan, Bu Husnul, Bu Rina, Bu Dwi, Bu Yeyen