Assalamualaykum
Mengawali tahun 2017 saya mau sharing sedikit tentang kawan yang masih tinggal di bogor padahal udah selesai kuliahnya.
Sebut saja namanya Diva, saya mengenal diva sejak masih aliyah di Husnul, sempat satu kamar ketika di asrama, dua tahun satu kelas karena kita di jurusan yang sama, dan sempat duduk bareng selama dua semester waktu kelas dua belas. Jadi, sedikit banyaknya saya agak mengenal sifat-sifat diva.
Pertemuan tadi siang adalah pertemuan kami pertama sejak dua tahun lalu, dan entah kenapa saya gak pernah absen ketemu diva setiap balik dari kairo, tapi biasanya saya yang selalu 'nyamper' ke Bogor dan dia stand by jemput di stasiun.
Tujuan utama selain meet up adalah buat bahas soal. Nah disini ceritanya, Diva adalah lulusan Stei Tazkia dan sedang bekerja menjadi kaka pembina di asrama Tazkia yang bertempat di Darmaga. Selain jadi kaka pembina, diva juga dipercaya untuk jadi asdos. Singkat cerita, dosen yang mengajar pakai buku rujukan berbahasa Arab.
'Aku tuh udah lupa tan (bahasa arab), pokoknya kalo translate gitu mentok lah otakku'
'Bapak dosennya juga udah tau aku gak bisa, tapi tetep aja diminta gantiin beliau'
curhat Diva saat makan siang tadi.
Tapi walaupun diva tahu kalau dia tidak mampu, tapi dia tidak pernah menolak permintaan dosennya
Pernah beberapa kali dia ngontak via messenger (ketika saya masih di Cairo) buat nanya translate materi saat diminta untuk menggantikan dosennya, minta ditranslate dari bahasa arab ke indo, atau lain waktu minta bahas soal untuk UTS adik-adik tahun pertama Tazkia. Alhamdulillah, saya pernah ikut pakeis dan sedikit banyak tahun 3-4 bahasan fiqih di kuliah tentang fiqih muamalah, jadi saya sedikit faham tentang pembahasan yang ditanyakan diva.
Sampai beberapa hari lalu, dia ngajak ketemuan mau bahas soal untuk UAS adik-adik katanya. Saya capek? Nggak juga, karena posisinya saya masih pengangguran, agenda juga belum padat jadi saya menerima. Sampai tadi siang akhirnya sepakat bertemu. Kita bahas soal hanya sekitar 2 jam kurang lebih, selebihnya ngobrol, makan, sampai bela-belain antar ke citayam pakai CL.
Nah selama obrolan yang kurang lebih 4 jam-an, ada satu hal yang saya ingat dari perkataan Diva.
'Aku tuh mau berbagi ke orang lain Tan, makanya aku terima job (jadi kaka pembina di asrama) langsung setelah lulus, tapi aku juga sadar kalau aku gak bisa langsung (ngajarin orang karena pakai bahasa arab pelajarannya) kecuali aku cari bala bantuan salah satunya ke kamu ini'
Dari sini saya langsung teringat perkataan 'faaqidussyai laa yu'thi' orang yang tidak memiliki apa-apa tidak bisa memberi.
Tapi Diva punya semangat untuk memberi, dia punya ilmu tapi hanya perlu penunjang untuk mentransfer ilmunya. Sampai akhirnya saya mengambil pelajaran dari sosok Diva ini bahwa setelah kalimat 'Saya tidak bisa' tidak boleh ada titik yang memutus sehingga kalimatnya berhenti, namun harus dilanjut dengan 'Maka saya harus berusaha' baru setelahnya ada titik.
Untuk Diva, thank you!
Semoga lancar s2nya😇