Assalamualaykum,
*claim dulu, cerita ini hanya untuk dijadikan ibroh dan tidak untuk ditiru (over bagasinya)*
Ini cerita dua hari lalu, jadi dibalik foto senyum, sedih, haru depan bandara ada kejadian hampir buat aku speechless di dalam bandara. Menganggap everythings gonna be okay. Bagasi over? No problem. Ga punya visa? No problem.
Eh, ternyata? Malang nasib mu nak!
Qadarullah ma sya a fa'al kalau kata si Masri mah.
Jadi begini ceritanya,
Aku pulang ke Indo terakhir 2014, bagasi nggak lebih dari 25 kg saja dari batas maksimal 30 kg. Nah, kemarin maksimal bagasi 46 kg. Udah banyak ya seharusnya. Tapi diriku bawa kitab dong ya, banyak. Alhasil pas ditimbang di rumah sebelum ke bandara juga bakal over sih, sampe 9 kg.
Pekan lalu, temanku berhasil lewat bagasi dengan over mencapai 10 kg *tidak patut ditiru*. Karena dia lolos itu lah aku jadi agak pede dengan bagasi yang over itu, dan hasil ngobrol dengan kawan-kawan juga kalau ternyata masalah bagasi kalau dari cairo-jakarta itu bukan masalah besar, banyak pengalaman yang mereka lolos aja bagasinya walaupun over kiloannya.
Justru yang aku takutkan adalah masalah visa, aku pulang tanpa visa. Visaku expired 19 desember dan aku pulang 24 desember.
Singkat cerita, aku check in, ketika ditimbang ternyata over dan petugas bagasinya gak bisa dilobi. Kalau mau diangkut semua bayar 230 dolar, atau ya tinggalkan sebagian barang sampai mencapai angka 46 kg. Hampir panik, coba menghubungi temen yang masih stay di bandara dan alhamdulillah berhasil. Keluarin buku-buku yang mungkin mencapai 10 kg dan langsung diangkut balik ke flat.
Kembali check in dan berhasil. Bagasi lolos, kemudian shalat ashar baru setelah itu ke imigrasi, antri, diurus sama senior dan alhamdulillah lancar hingga seterusnya.
Nah ketika agak senggang, sambil nunggu buat masuk ke waiting room tiba-tiba aku teringat tentang hari perhitungan nanti.
Aku coba membayangkan, pas aku over bagasi aja aku panik, namun alhamdulillahnya aku udah siaga untuk minta maryam (temanku yang stand by di bandara) stay sampai urusan bagasi dan imigrasi lancar. Panik ku sudah ternetralisir lah ya.
Tapi ketika hari perhitungan nanti, saat aku tiba di hadapan Allah kemudian Allah bilang, 'kalau mau masuk syurga, amalan kebaikan mu harus lebih besar dibanding dosa mu' maka kepada siapa aku akan melimpahkan dosa ku tersebut? Panik? Pasti. Takut? Pasti. Mungkin level kepanikannya beratus-ratus kali lipat dari panik di dunia. Gimana enggak, wong ancamannya lempar ke neraka. Kan, kalo bagasi ancamannya paling bayar sekian dolar, banter2 kalo keukeuh ya ketinggaln pesawat.
*Walaupun masuk syurga itu bukan karena amalan kita, tapi lebih karena kasih sayang Allah lah kita dimasukkan ke syurga*
Pas di bandara kemarin kan ada maryam yang siap angkut kitab ku yang tebal itu balik ke flat, kalau pas yaumul hisab siapa pula yang mau nolong kalau dosaku lebih banyak? Aku kan sendiri, bahkan dengan orang tua yang ikatannya darah saja bakal saling tidak perduli, pasangan? Teman? Tidak ada yang peduli. Karena nanti aku benar-benar sendiri dan hanya amal yang menemani.
Jadi berterimakasih kepada petugas bagasi dari Etihad, aku jadi bisa berfikir lebih jauh. Yha walau sebelumnya agak dongkol gimana gitu ya. Maafkan ya mba-mba petugas.